Telaga Biru Semin, Gunung Kidul: Tak Seindah Dulu

Belum lama ini aku jalan-jalan di daerah Semin yang terletak di Kabupaten Gunung Kidul Yogyakarta. Nah, di daerah tersebut ada sebuah tempat yang dulu sempat viral di tahun 2015-2017. Konon katanya, tempat tersebut dijuluki sebagai Raja Ampatnya Gunung kidul. Menurut kabar yang beredar tersebut, banyak wisatawan yang berkunjung di sini hanya sekedar untuk berswafoto ataupun menikmati keindahan telaga dengan naik perahu sampan yang disewakan oleh penduduk sekitar.

Nah aku kan penasaran bagaimana kondisi tempatnya saat ini, jadi akhirnya beberapa hari yang lalu aku kesana. Telaga Biru Semin. Sudah pernah mendengar nama tempat tersebut belum? Kalau belum pernah mendengar intip dulu kondisi sekarang Telaga Biru semasa pandemi ini. Awal aku menuju kesana aku sempat tersesat nih, karena petunjuk yang ada di Google Maps itu ternyata salah. Yang harusnya saat ada tower berwarna biru itu belok kiri, tapi di Google Maps di arahinnya lurus saja. Dan berakhir di jalan buntu yang posisinya berada di tengah-tengan pekarangan penduduk sekitar. Setelah bertanya dengan salah satu warga akhirnya sampai juga pada lokasi yang aku tuju. Memang benar ya pepatah malu bertanya sesat di jalan. Hanya mengandalkan Google Maps saja ternyata kurang akurat.

telaga-biru-semin-1

Sesampainya di lokasi, ternyata tempat ini adalah tempat penambang batu. Aku jadi syok dong! Jadi awalnya telaga biru ini hanyalah sebuah bukit yang digunakan masyarakat sekitar untuk diambil batunya untuk dijual. Semakin lama bukit ini semakin tergerus mendalam dan pada akhirnya keluar air di sekitar bukit tersebut dan semakin lama air tersebut menggenang terus menerus dan hingga sekarang menjadi telaga, masyarakat sekitar menamainya telaga biru karena kalau dilihat dari ketinggian, telaga tersebut berwarna biru yang di kelilingi tebing-tebing yang sangat curam dan luas. Karena tempat ini didominasi dengan tebing batu kapur dan jarang ada pohon yang tumbuh, jadi saat aku kesana terasa panas sekali hingga terasa menyengat di kulit. Kalau kalian ngotot ingin kesini jangan lupa bawa topi atau payung dan pastikan pakai sunblock biar kulitnya tidak merah karena terkena sinar matahari yang cukup menyengat itu. Sehingga pada musim kemarau keadaan telaganya dapat hingga menyusut 40-50% dari biasanya.

telaga-biru-semin-2

Saat ini telaga biru hanyalah sebuah tempat yang dipakai untuk tempat penambangan batu. Telaga biru bukanlah tempat wisata resmi karena tidak ada kerjasama antara pemerintah dan masyarakat untuk mengubah tempat ini menjadi tempat wisata dan kemudian memelihara tempat ini, jadi memang terlihat kalau tak layak dikunjungi. Selain itu, jalan menuju lokasi berbatu dan sulit dilewati. Karena digunakan untuk penambangan jadi tak heran apabila jalanannya rusak dan kalau hujan jalanan tersebut menjadi licin dan becek. Sayang sih, sebenarnya kalau saja tempat ini dipelihara dengan baik dan ada kerjasama antara pemerintah dengan masyarakat sekitar, bukanlah hal yang tak mungkin apabila Telaga biru menjadi destinasi wisata unggulan yang layak untuk disinggahi oleh wisatawan domestik ataupun mancanegara. Apalagi kalau dilihat dari atas tebing, memang pemandangannya lumayan indah. Namun harap diperhatikan kalau ingin melihat dari atas tebing harus hati-hati ya karena jalanannya lumayan berbahaya. Belum ada pembatas untuk keamanan di sekitar lokasi tersebut. Lokasi di atas tebing ini juga tidak disarankan untuk wisatawan yang membawa anak-anak melihat Telaga Biru dari atas karena memang sangat berbahaya. Aku saat melihat dari atas tidak berani berlama-lama karena memang agak seram apalagi aku kan takut ketinggian.

telaga-biru-semin-3

Nah jadi Telaga Biru ini dulunya adalah tempat yang sering dikunjungi oleh wisatawan karena terkenal dengan keindahannya, namun seiring berjalannya waktu, selain karena pandemi yang melanda negara ini, dan memang karena lokasi ini bukanlah objek wisata resmi, lokasi ini pun mangkrak begitu saja. Alangkah lebih baik nantinya apabila pemerintah mengadakan diskusi dengan warga untuk mencari tahu dan melakukan penghitungan manakah yang lebih menguntungkan, apakah menambang batu, ataukah pariwisata. Kalau nantinya dari sektor pariwisata lebih menguntungkan, pastinya warga akan mendukung dan tempat ini bisa menjadi destinasi wisata yang tidak kalah dengan Tebing Breksi. Kemudian pelajaran lain lagi untukku adalah jangan mudah percaya situs-situs blog yang menceritakan keindahan suatu objek wisata karena itu belum tentu benar dan up to date. Sedih rasanya ekspektasi tinggi ingin berwisata healing malah disuguhi pengalaman petualangan mendebarkan di area penambangan batu. Namun jangan khawatir karena ClubPiknik selalu menyajikan semua pengalaman wisata yang otentik yang dapat dilihat sendiri melalui channel YouTube kami.